Tinggalkan Profesi Guru Jadi Pendekar Dongeng

mediabogor.com, Bogor – Pendekar Dongeng Indonesia, Rohidin atau yang dikenal dengan panggilan Kang Didin adalah pendongeng asal Bogor, yang namanya sudah terkenal di sejumlah daerah di Indonesia seperti Kalimantan, Batam, Aceh, Lombok dan daerah-daerah di pulau Jawa.

Dijuluki pendekar oleh banyak orang dilatari karena bentuk fisiknya yang pendek, gendut dan kekar. Yang jika disingkat menjadi kata pendekar. Selain itu, saat membawakan dongeng, ia sering menirukan gaya layaknya seorang pendekar.


Ia menuturkan, profesi mendongeng sudah ia jalani sejak 2012. Pilihan ini, ia ambil karena merasa prihatinan akan kelestarian dongeng di jaman yang serba digital ini.

Kegiatannya mendongeng kepada anak-anak bukan hanya di Bogor saja. Sejumlah tempat dan daerah sudah pernah dia kunjungi karena banyaknya permintaan mendongeng.

Sebelum menjadi seorang pendongeng ia pernah berprofesi sebagai guru SD, SMP dan SMA. Bahkan, sempat menjadi seorang dosen walaupun hanya satu semester. Profesi sebagai tenaga pengajar ia lepas karena keinginannya untuk melestarikan dongeng.

“Saya punya kekawatiran yang berlebihan terhadap dongeng. Ketika saya masih anak-anak, saya suka mendengarkan dongeng. Sedangkan anak-anak sekarang tidak pernah tertarik mendengarkan dongeng padahal dongeng itu banyak memberikan nilai yang baik untuk anak,” ungkapnya.

Kang Didin melanjutkan, ada manfaat dari mendengarkan dongeng. Anak bisa mendapat pelajaran tanpa di gurui. Dia bisa menerima pelajaran tanpa di paksa. Dalam dongeng juga ada nasehat tapi tidak menasehati.

“Karena itu, saya sedih kehebatan dongeng sudah tidak digunakan lagi sekarang ini. Sehingga saya merasa terpanggil harus berbuat sesuatu yaitu jadi pendongeng,” ucapnya.

Awal menggeluti profesi pendongeng, ia tak serta merta langsung mendapatkan job panggung. Namun, ia tak patah semangat untuk terus berbagi metode mendongeng. Ia juga mencoba membuat inovasi bagaimana cara menyampaikan dongeng yang asyik dan mudah dicerna anak-anak.

“Cara penyampaiannya tergantung audiens. Jika ketemu anak TK, maka saya gunakan alat apa yang membuat anak TK suka. Jika anak SD saya gunakan cara anak SD dan yang terpenting harus menghayati cerita yang disampaikan agar anak juga terbawa suasana. Karena di momen itulah anak akan merasa senang saat dia terbawa suasana,” terangnya.

Masih kata Kang Didin, tema yang sering dibawakan saat mendongeng adalah tema-tema yang mengandung nilai sosial dan cerita dongeng yang menumbuhkan mimpi anak-anak untuk mempunyai cita-cita dalam hidupnya. Karena dalam menyampaikan dongeng ia berupaya agar nilai-nilai kebaikan yang disampaikan betul-betul diserap oleh anak-anak. Caranya adalah dengan melibatkan perasaan anak-anak.

Contoh, agar anak-anak tidak buang sampah sembarangan, maka beri pemahaman apa dampak buruk dari buang sampah sembarangan. Dalam imajinasi anak buang sampah sembarangan bisa bikin banjir dan bisa menimbulkan penyakit.

Selama 8 tahun menjadi pendongeng, diakui Kang Didin, sudah banyak manis dan asam pengalaman yang dirasakan. Namun, hal itu, tak membuatnya berhenti karena keinginannya yang kuat untuk bisa melestarikan dan menanamkan nilai kebaikan kepada anak melalui dongeng.

“Saya gak akan berhenti mendongeng. Kedepan, saya bercita cita menghidupkan kembali budaya mendongeng dari para orang tua atau guru kepada anaknya. Saya juga ingin bikin gerakan wajib mendongeng supaya dongeng yang merupakan warisan nenek moyang kita tetap terjaga dan tidak hilang karena arus kemajuan teknologi,” pungkasnya. (*/d)