Selama Beberapa Menit Bayangan “Menghilang”

mediabogor.com, Bogor – Fenomena bayangan “menghilang” atau Kulminasi terjadi di Kota Bogor pada Kamis (10/10/19) siang pukul 11:39:54 WIB. Kepala Stasiun Meteorologi Citeko – Bogor, Asep Firman Ilahi menjelaskan, Kulminasi (Transit atau Istiwa) adalah fenomena ketika deklinasi Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Kondisi ini, dalam Astronomi disebut sebagai Kulminasi Utama.

Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat “menghilang”, karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari saat terjadinya Kulminasi Utama dikenal juga sebagai Hari Tanpa Bayangan.


“Untuk membuktikan fenomena ini, letakkan benda pada pemukaan yang datar, kemudian perhatikan bayangan yang menutupi benda tersebut,” katanya.

Ia menerangkan, dalam setahun, biasanya Bumi akan mengalami Hari Tanpa Bayangan sebanyak dua kali pada 10 Oktober dan 22 Maret setiap tahunnya. Fenomena itu, hanya berlangsung beberapa menit saja. Dan ini, hanya terjadi di belahan bumi dari lintang 23.5° Utara sampai 23.5° Selatan.

“Seluruh wilayah di Indonesia akan mengalaminya, tapi waktunya saja yang berbeda. Seperti Kulminasi sekarang (Oktober), di Jakarta lebih dahulu tanggal 9 Oktober, dan di Bogor tanggal 10 Oktober,” terangnya.

Asep meneruskan, fenomena Kulminasi identik dengan masa transisi atau pancaroba. Dalam fase ini, ketika Matahari bergulir ke Selatan maka di belahan Bumi Selatan akan mengalami kenaikan suhu permukaan laut yang ditandai dengan Musim Hujan di Selatan. Begitu juga sebaliknya, ketika Matahari bergulir ke Utara, maka belahan Bumi bagian Utara akan lebih hangat yang ditandai dengan Musim Hujan di bagian Utara, dampaknya di Selatan akan terjadi Musim Kemarau.

Ia menegaskan, ini fenomena biasa. Tidak berdampak signifikan. Tapi suhu udara biasanya akan lebih panas dan lembab. Biasanya pada saat Kulminasi suhu udara akan mencapai suhu terpanas (maksimum) dalam setahun. Di Kota Bogor sendiri, pernah mencapai hingga 36°C (rata-rata harian 29°C), sementara di Puncak sekitar 29°C dari rata-rata harian 26°C.

“Himbauan bagi masyarakat, disarankan menjaga asupan cairan saat beraktifitas di luar ruangan khususnya saat terik Matahari, karena dengan suhu tinggi dan kelembaban rendah akan cepat memicu dehidrasi,” imbaunya. (*/d)