Pelajar Alami Gangguan Jiwa Karena Game Online

mediabogor.com, Bogor – Sekarang ini, demam game online lewat komputer maupun handphone tengah marak digandrungi kawula remaja khususnya di kalangan pelajar. Trend ini, bahkan menjadi candu bagi para pemujanya yang rela menghabiskan uang serta waktunya hanya untuk bermain game.

Dari fenomena tersebut, tidak sedikit kalangan remaja maupun pelajar menjadi tidak waras akibat tingkat kecanduannya yang sudah tinggi. Dikatakan oleh Suhartono, pendiri yayasan yang membantu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), sekarang ini, pasien yang lagi marak itu adalah karena masalah gadget yang bermain game online lewat komputer maupun handphone.

Di tempatnya, usia pasien yang paling muda itu 13 tahun. Masalahnya karena gadget, game online. Permasalah ini, yang sekarang banyak menyerang usia remaja terutama pelajar. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena keasikan. Di situ kan dunia penuh fantasi, khayalan dengan iming-iming hadiah, bonus, naik peringkat, dan sebagainya. Itu yang membuat pikiran mereka terfokus pada permainan sedangkan pikiran di dunia nyatanya kosong. Mereka jadi sensitif, mudah emosi dan sulit diatur, karena pikirannya hanya tertuju pada hp.

“Di yayasan ini, yang sudah saya tangani sudah 2. Yang sembuh baru 1 orang dan sudah pulang. Nanti akan ada lagi yang masuk 1 orang. Dan ada 2 lagi masih dalam konsultasi untuk masuk ke panti,” bebernya saat ditemui di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia bersama puluhan ODGJ di Kebun Raya Bogor, Kamis (10/10/19).

Pendiri Yayasan Jamrud Biru ini mengungkapkan, gangguan jiwa berawal dari batin yang tertekan, pikiran yang tertutup, tidak ada orang yang membantu sehingga melakukan tindakan-tindakan yang tidak baik. Faktor lainnya ada makhluk halus yang masuk. “Itu menurut pengamatan kami. Karena kami di bidang kesehatan jiwa tapi khusus mengobati dengan cara alternatif,” ujarnya.

Adapun metode yang dirinya pakai yakni dengan cara totok saraf yaitu mengurut urat di belakang kepala dan di bawah ketiak. Dan itu harus dilakukan setiap hari. Karena urat saraf itu seperti bubur, lembut, harus pelan-pelan.

“Di samping itu, kita beri air kelapa muda yang dicampur beberapa ramuan. Itu diminum sehari satu kali. Kita juga berikan motivasi yang kuat agar proses penyembuhannya cepat. Paling cepat itu 2 minggu bisa membaik. Dan paling lamanya 4 bulan. Itu pengalaman dari pasien yang sudah kita tangani,” jelasnya.

Ia menegaskan, bahwa proses penyembuhan lebih banyak pada sisi pembinaan terutama aspek spiritual. Walaupun obat diberikan tapi tanpa pembinaan agama, terapi olahraga, disiplin dan aspek lainnya secara persuasif itu semua tidak akan sembuh. “Metode yang kami lakukan tujuannya hanya satu yakni pasien sembuh bisa kembali ke keluarganya dengan sepenuh hati tanpa ada diskriminatif dan stigma negatif kepada mereka,” pungkasnya. (*/d)