Mencoba Hijrah, Punk Pinker Bondes Ikuti Pengajian Rutin

mediabogor.com, Bogor – Beginilah kegiatan anak-anak Punk pintu kereta (Pinker) Kebon Pedes (Bondes) yang mengikuti pengajian rutin setiap Rabu siang setelah bada dzuhur. Memakai balai warga di samping pintu palang kereta sebagai tempat mengaji, para anak Punk dan pengamen jalanan ini, terlihat serius mendengarkan ustad yang mengajarkan cara membaca Alquran.

Ustad Jarkasih selaku pengajar dan pembina Punk Pinker Bondes menuturkan, pengajian ini, rutin dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Rabu siang usai salat dzuhur yang sebelumnya diawali dengan salat berjamaah. Pengajian ini, baru berjalan satu bulan. Pembelajaran yang diberikan yakni tentang bagaimana membaca Alquran, pembiasaan salat, serta kajian-kajian yang bermuatan fikih.


“Tempat gratis. Kita diijinkan warga untuk memakai tempat ini untuk belajar ngaji Rabu siang. Kalau sore biasanya dipakai warga main tenis meja. Tapi ada juga kendalanya. Pertama, di waktu. Mereka ini kan menggantungkan kehidupannya di jalanan. Kita sebagai pengajar ngga bisa nentukan waktu. Jadi, waktunya terserah mereka dan kita yang mengikuti bisanya mereka. Kedua, kesadaran untuk mengikuti kegiatan ini yang masih belum full,” terangnya, Rabu (23/10/19).

Ia menceritakan, awal mengajak anak-anak punk ini untuk hijrah adalah lewat pendekatan, komunikasi, dan membangun kepercayaan untuk mengetahui karakter dan kultur dasar mereka. “Yang kita bangun itu, awalnya komunikasi dan kepercayaan dulu. Dan ternyata mereka pun sebenarnya sedang menunggu orang-orang yang mengajak kepada hal-hal yang lebih baik. Karena itu, kita punya slogan Punkgil Aku Saudaramu (PAS) artinya mereka juga memiliki keinginan untuk melakukan kebaikan dan mempunyai hak mendapat pembelajaran agama,” ujarnya.

Menurut Jarkasih, alasan dirinya merangkul anak-anak Punk dan pengamen jalanan, karena ia bersama beberapa kawannya ingin mengisi ruang-ruang kosong yang belum diisi oleh para dai lain. “Kebanyakan dai-dai mengisi kegiatan dakwahnya di tempat-tempat yang sudah umum seperti masjid, majelis. Kalau kita ingin mengisi peran di bagian lain yaitu kepada saudara-saudara kita di jalanan seperti pengamen, anak Punk, atau kalangan marjinal lainnya. Kita melihat belum ada yang mengisi ruang ini untuk berdakwah. Kita berprinsip dakwah itu harus menyeluruh baik kepada orang-orang umum maupun kepada orang yang dianggap minoritas,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, ini salah satu kegiatan sosial keagamaan dimana peran negara atau pemerintah belum ada yang memperhatikan secara khusus kepada komunitas anak-anak Punk dan pengamen jalanan ini. “Jadi kita berinisiatif mengambil peran itu. Mudah-mudahan dengan adanya pengajian ini, opini atau stigma buruk yang disematkan kepada mereka bisa berubah. Dari opini buruk ke opini baik. Dari kelakuan yang kurang baik menjadi baik. Intinya sesederhana itu. Kita ingin memberikan opini yang baik terhadap mereka bahwa mereka adalah bagian dari anak negeri yang berhak mendapatkan hak yang sama terutama pendidikan agama,” bebernya.

Ia menambahkan, dirinya juga telah membuka pengajian di Sukabumi. Ada sekitar 50 anak Punk dan pengamen yang sudah dibuatkan agenda pengajian. Targetnya utamanya mereka bisa membaca Alquran. (*/d)