Keren, Teddy Arte Ciptakan Lukisan di Atas Daun Kering

mediabogor.com, Bogor – Kreatifitas Teddy Arte (37) melukis di atas daun kering patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, idenya memanfaatkan sampah organik yang terbuang dan tidak terpakai bisa disulapnya menjadi sebuah karya seni yang memiliki nilai ekomomi.

Selain memakai daun kering, yang menjadi keunikan dari lukisan ini adalah ukuran daun yang dipakai sebagai kanvas tidak hanya berukuran besar tapi juga daun berukuran kecil. Selain itu, ia tidak hanya memakai cat air untuk melukis tapi juga menggunakan kopi instan untuk membuat lukisan retro monochrome.


Bernama asli Tedi Asmara, pria asal Cipanas yang kini tinggal di wilayah Wangun, Tajur, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor ini, mulai mengembangkan seni lukis di atas daun sejak tiga tahun kebelakang tepatnya di 2016. Sebelum menekuni dunia lukis, ia sempat kerja serabutan menjadi office boy, pekerja bangunan hingga tukang kebun.

Ia menceritakan, awal mula menggunakan media daun kering itu, saat ingin memberi hadiah untuk atasannya yang berulang tahun. Waktu itu, ia tidak memiliki media kanvas dan kertas yang bisa dipakai untuk melukis. Tak kehabisan akal, di situ ia melihat sebuah daun jambu yang permukaannya rata. Dicobalah daun itu sebagai kanvas.

“Saya coba lukis potret wajah dia terus saya bingkai. Ternyata dia senang dan suka hasilnya. Malah saya dikasih uang. Padahal itu hadiah. Lalu atasan saya bilang skil dan kreatifitas ini bisa dikembangkan. Di situlah saya berpikir daun kering ini, bisa dimanfaatkan sebagai media lukis,” ujarnya, Rabu (14/8/2019).

Teddy mengaku, menyukai seni lukis dari sejak duduk dibangku sekolah dasar. Ia menekuninya secara ototidak. Untuk lukisan di daun kering, daun yang pertama kali dipakai yaitu daun jambu dan daun nangka. Daun yang diambil adalah daun kering alami yang sudah menjadi coklat. Kemudian dibersihkan. Supaya awet, setelah dilukis daun itu dilapisi pernis.

Ia mengatakan, tidak semua daun dapat menyerap cat lukis. Kecocokan cat dan daun menentukan daya tahan lukisan. Intinya daun harus rata, tidak mudah rusak dan tahan untuk di cat.

“Saya pernah mencoba mengeksplore beberapa macam daun kering untuk dilukis. Dari berbagai macam daun yang di coba yang paling cocok itu daun karet kuning dan daun awar-awar. Karena daun itu mudah di dapat, permukaannya rata tidak bergelombang dan cat mudah menempel,” jelasnya.

Selain cat minyak, dirinya juga memakai kopi bubuk untuk menghasilkan lukisan monochrome dan retro. Kopi yang dipakai adalah kopi instan yang tanpa ampas karena lebih pekat.

Dalam sebulan, ia mengaku bisa mendapat orderan 2-3 buah. Pesanan kebanyakan dari luar Bogor. Paling jauh NTT dan Yogyakarta. Kebanyakan lukisan yang dipesan adalah potret satu wajah dan dua wajah. Yang satu wajah umumnya menggunakan daun karet kuning berukuran sebesar telapak tangan. Lama pembuatan 3-5 hari. Sedangkan lukisan dua wajah memakai daun awar-awar yang ukurannya sedikit lebih besar. Lama pembuatan bisa seminggu. Selain itu, melukis di daun berukuran kecil pun bisa.

“Untuk harga mulai dari Rp1-3 juta. Kebanyakan pesanan pribadi yakni membuat potret wajah. Biasanya buat hadiah ulang tahun atau wedding. Penghasilan yang di dapat pun cukup ngebantu untuk kehidupan sehari hari. Dan ini, sudah menjadi pekerjaan tetap saya,” ungkap Teddy yang bercita cita bisa menggelar pameran tunggal suatu hari nanti. (*/d)