Kampung Cibadak Tanah Sareal Sentra Pembuatan Wajan

Kampung Cibadak Tanah Sareal Sentra Pembuatan Wajan

Mediabogor.id, BOGOR- Kampung Cibadak RW 12 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat dikenal dengan sebutan kampung berisik karena terdapat home industry (industri rumahan) pembuatan wajan yang dijalani oleh warga setempat. Setiap harinya keberisikan kampung ini dimulai dari pukul 07.30 hingga 16.00 WIB.

Diketahui suara bising tersebut berasal dari wajan yang sedang ditempa dengan palu. Karena masih dikerjakan secara manual dan alat seadanya, suara berisik itu menjadi suara khas sehari hari yang terdengar hingga ke kampung sebelah. Dari situlah Kampung Cibadak disebut sebagai Kampung Berisik.

Rahmat selaku Ketua RW 12 mengatakan, Kampung Cibadak adalah salah satu kampung tematik di Kota Bogor yang terkenal sebagai sentra pembuatan wajan satu-satunya di Kota Bogor dan kesohor karena kualitasnya.

“Usaha pembuatan wajan di kampung ini, sudah ada sejak tahun 60-an. Rata-rata ini adalah usaha keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Sekarang ini, tercatat ada sekitar 20 kepala keluarga (KK) atau 8 bengkel yang masih bekerja sebagai pengrajin wajan dan peralatan masak di Kampung Berisik,” kata dia.

“Dulu pernah sampai 15 bengkel rumah yang membuat wajan ini. Karena perubahan zaman dan orang sekarang lebih memilih bekerja di luar akhirnya sekarang tinggal 8 bengkel,” paparnya, Sabtu (27/6/20).

Ia menambahkan, sudah banyak orang yang berkunjung ke Kampung Berisik ini baik dari mahasiswa, dinas hingga kementerian. Bahkan tahun lalu Kampung Cibadak berhasil meraih juara 2 di lomba kampung tematik tahun 2019.

“Saya berharap kampung ini suatu saat nanti tidak hanya menjadi sentra usaha wajan semata, namun juga bisa menjadi daya tarik wisata. Kemudian anak-anak mudanya mau belajar meneruskan usaha ini, dengan demikian itu dapat mengurangi pengangguran. Dan perlunya bantuan modal serta pemasaran agar usaha ini dapat lebih maju dan berkembang,” harapnya.

Sementara itu, salah seorang pembuat wajan, Maat (53) mengaku mulai belajar membuat wajan ini sejak masih kelas 5 SD. Setelah sedikit mahir ia pun membantu usaha saudaranya. Berbekal pengalaman tersebut Maat kemudian memberanikan diri menjalankan usaha pembuatan wajan hingga kini.

Ia menjelaskan, untuk membuat wajan ia menggunakan bahan plat baja dan drum bekas minyak. Sebuah drum bisa menghasilkan 6 hingga 8 buah wajan. Untuk membuat wajan berdiameter 45 cm sehari ia bisa menyelesaikan 10 buah. Sedangkan berukuran besar dengan diameter 110 cm dapat di selesaikan dalam waktu dua hari.

“Bikin wajannya semua manual, ngebentuknya pakai perasaan biar rata. Ukuran wajan yang dibuat pun beragam, namun yang paling laris ukuran diameter 45 cm. Dan ini kita langsung jual ke pemakai,” ucapnya.

Selain dijual langsung ke pemakai, sambung Maat, wajan buatannya juga pernah dipesan dan dipasarkan di Tanggerang, Manado, Batam, Jakarta, Serang, Depok dan paling jauh ke Singapura.

“Semakin besar dan tebal harganya makin mahal. Untuk wajan berdiameter 45 cm saya jual seharga Rp.150 ribu. Sedangkan yang berukuran besar dengan diameter 110 cm saya jual dengan harga Rp.1,5 juta,” pungkasnya. (Nick)