Asep Friyana Pemilik Bengkel Pisau Berawal dari Hobi Jadi Mata Penghasilan

Asep Friyana Pemilik Bengkel Pisau Berawal dari Hobi Jadi Mata Penghasilan

Mediabogor.id, BOGOR- Asep Friyana Wiradikarta pemilik bengkel pisau dengan merek dagang pisau knife ini, berawal menjalani usahanya hanya hobi kemudian pelajari secara otodidak melalui youtube. Akhirnya, menjadi mata penghasilan.

Di ruangan itu terdapat peralatan yang terbilang cukup lengkap, yaitu mulai dari tungku pembakaran baja, mesin pemotong besi, potongan pelat baja, potongan kayu, dan beragam pisau yang sedang dalam proses.

“Awalnya saya hobi membuat pisau, bahkan diawal itu saya belum tahu pangsa pasarnya kemana, saya hanya sering dan senang bikin pisau lalu lama-lama saya menemukan komunitas pisau di facebook, nah di media sosial (facebook) itu lah saya melihat ternyata market pisau itu bagus,” kata Friyana ditemui di bengkel pisau miliknya di Kecamatan Bogor Selatan, Jumat (30/10/2020).

Melihat pangsa pasar di media sosial itu, Friyana kemudian mencoba mengungah pisau buatannya untuk ditawarkan ke akun komunitas pecinta pisau. Respons yang dia dapat ternyata sangat bagus. Banyak pecinta pisau yang memuji produknya hingga akhirnya memesan kepada dia. 

“Saya upload di media sosial di facebook banyak orang yang respek menanyakan buatan siapa ini, dari situ kemudian saya mencoba membuka usaha. Enam bulan pertama belum bisa disebut jualan cuma iseng ada pesanan bikin belum fokus karena saya masih kerja, baru setelah tahun kedua animonya lebih bagus lagi saya langsung keluar kerja saya langsung tekuni tahun 2016,” kata dia.

“Karena saya dasarnya petualang, image pisaunya nempel jadi karakter pisau saya, itu yang membuat pisau knife karakternya kelebihannya di-outdoor, namun kemudian dalam perjalanannya kita juga produksi pisau dapur karena banyak yang pesan jadi kita terima juga,” bebernya. 

Masih kata dia, untuk proses pembuatan pisau yang menggandalkan buatan tangan juga menjadi ciri khas pisau knife yang disebutnya sebagai produk total hand made. 

Pembuatan pisau itu ada dua proses pertama tempa yaitu kita bikin dari bahan bekas kemudian ada remova kita bentuk dari lempengan kita gambar kita grinding proses jadi pisau. Dalam prosesnya udah nggak ada kesulitan  karena saya sudah terbiasa kecuali bentuknya butuh pemikiran namun jika ada pelanggan yang order dan saya merasa tidak mampu ya saya katakan tidak mampu,” ucapnya.

Dalam pembuatan pisau dapur, Friyana biasanya membutuhkan waktu 18 jam untuk 10 bilah pisau yang dikerjakan oleh dua oleh dua orang. Untuk pisau petualang Friyana membutuhkan waktu 3-10 hari.

“Kalau pisau petualang tergantung tingkat kesulitan dari dimensinya seperti apa ornamennya seperti apa modelnya, ya ini bisa 3-10 hari karena kalau pisau petualang ini biasanya antre yang pesan,” katanya. 

Meskipun berstatus produk Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) namun pisau knife telah dipesan dari berbagai daerah di tanah air bahkan hingga menembus pasar dunia.

Norwegia, Brunei Darussalam, Malaysia, Korea Selatan, hingga Australia adalah negara yang pernah ditembus oleh pisau knife. Penjualan ke luar negeri itu dia dapat melalui postingan di akun sosial media. 

“Saya memasarkan hanya dari mulut ke mulut dan melalui sosial media, pemasaran sudah seluruh provinsi sudah kita kirim dan ada 7 negara yang kita pernah kirim salah satunya dari Malaysia yang hingga kini masih berlanganan,” katanya. 

Saat pandemi merebak pisau knife yang telah menembus pasar dunia itu mengalami penurunan omzet. Biasanya dia bisa mendapatkan puluhan juta dalam sebulan namun saat di awal masa sulit seperti ini pendapatannya merosot tajam.

Friyana mengatakan turunnya omzet penjualan pisau itu disebabkan konsumen yang lebih mementingkan untuk membeli barang yang menjadi priotas kebutuhan karena rasa was-was akan dampak buruk ekonomi akibat sebaran dari sikon ini.

Namun turunnya omzet penjualan itu tak membuat Friyana patah arang. Dia berusaha untuk kembali meningkatkan omzet dengan cara menawarkan diskon kepada pelanggan. 

“Untuk tetap jalan saya coba diskon. Jadi April saya mulai diskon produknya sampai 40 persen setelah itu mulai ramai lagi, selain itu saya juga coba bikin pisau yang lebih kecil dengan bahan yang harganya tidak terlalu tinggi nah itu bangkit lagi, kesininya mulai merangkak lagi naik mulai sekitar 11-25 juta sebulan,” katanya.

Meski kembali mengalami peningkatan omzet, namun angka pendapatan tersebut masih dibawah tahun lalu.

Tahun lalu di saat momen Iduladha yang menjadi puncak pesanan pisau ini dia bisa mengalami peningkatan hingga 200%.

“Bulan menjelang Iduladha biasanya omzet naik 30 persen bahkan mendekati Iduladha kita sampai 200 persen sekarang cuma biasa saja, tahun lalu itu kita bisa 200 bilah kalau sekarang cuma 6 bilah sebulan, namun setidaknya sudah ada peningkatan dibanding awal masa sulit,” imbuhnya. (Nick)